Sebah

bumi gelap
angin pada ngelayap
sunyi sungguh penat malamku
sunyi kelabu
sunyi kelam
rindu menikam
mengutuk
setan nongkrong ikut merajuk
kupeluk

*April 2018*

Iklan

Malaikat Kecil dengan Sayap Rajutan Cahaya

Malaikat kecil membentang sayap rajutan cahaya
Senyum indah mencerlang pekatnya jelaga
Aku mengerang
Wajahku putih bagai bangkai mendiang usang
Teperdaya aku tak berhingga

Gaun-gaun lembut
Mengayun bersama angin di permula petang berkabut
Kulit tanpa noda memendar
Langit dan bintang meregup redup

Aku dari jauh
Enggan berkedip walau sekali
Kutakut mata tak kuat sunyi
Sulit teguh
Inginku memandang lebih lama

Sampainya lama
Cukup lelap ku didekap gelap
Anjing liar menyalang
Burung gagak berceloteh
Malaikat kecil dengan sayap rajutan cahaya terbang
Tak sempat hati menoleh

April 2018

Bagaimana Penyair Menemukan Ide Menulis Puisi?

oleh : Denni Meilizon

Memperhatikan objek sekitar kita dengan menggunakan sudut pandang yang berbeda ternyata dapat menghasilkan puisi yang hebat.

Tema tentu sederhana saja sebab yang dibutuhkan hanya beberapa hal kecil yang luput dari perhatian orang lain. Kita olah ia menjadi daya ungkap, bentuk diksi dari perbendaharaan kata yang kita kuasai. Gunakan bahasa yang beda dari ungkapan sehari-hari.

Di atas, kita punya sebuah gambar kamar lengkap. Di mata orang awam tak ada yang istimewa dari gambar tersebut. Biasa saja. Hanya sebuah ruang dengan benda-benda yang memang seharusnya ada di situ.

Namun, mata seorang penyair harus tajam setajam mata elang sekaligus peka seperti mata kelelawar.

Bahwa yang terlihat belum tentu yang terlihat dan sekaligus yang tidak terlihat masih diliputi oleh yang tidak terlihat lainnya.

Mata batin harus hidup. Tutup mata, gunakan seluruh indera. Rasakan aroma, sentuhan udara, suara dan bunyi yang membuluh dalam udara, di dinding, dalam lipatan kain, bantal, tirai, decit kaca, perabotan, benda apapun, gemericik dan desir air di kamar mandi, rasa dingin lantai dan cahaya yang menyentuh bulu halus di tubuh.

Alih-alih membahas hal nyata, puisi muncul dengan kuat mengungkapkan apa yang terabaikan oleh orang awam. Beritahu pembaca puisimu,bahwa di dalam sebuah ruang itu, air dan lumut saling menyatu sebelum ditindas oleh cahaya lampu. Lengking teriakan kesakitan bakteri yang mengendarai debu yang dibakar dinginnya udara dari air conditioner. Ceritakan pertengkaran kutu-kutu di lipatan bantal yang terlalu lapar sebab jarang mengisap darah karena jarangnya orang tidur di kamar itu.

(Hasil Diskusi FAM Indonesia 24 Januari 2018)

Aku Sangat Membencimu

Aku tak tahu harus berucap apa sampai kata itu terdefinisi secara saksama. Dari bahkan sampai sepi begini, kau terus bergelut-lembut. Bersama aroma-aroma surga yang kutelaah dulu adalah rombongan bidadari-bidadari pelintas semesta.

Rentetan kejadian hanya berlalu. Bak asap dari kepulan tungku, hilang musnah dikulum angin. Tetap. Kelu kebas. Tak cukup nyali berkata bebas. Kecantikan tak ternamakan. Tak terdefinisi. Tak tersentuh.

Aku bersyair tanpa suara. Tanpa tulisan. Tanpa gerakan. Tanpa pahatan. Semua berlaku batin. Saat kau harus lewat, dengan amat binasa wajahku kutundukkan. Kubenamkan. Dalam-dalam.

Aku sangat membencimu.

Jika aku tak mampu mencintaimu, setidaknya biarkan aku untuk membencimu

Hilang

“Andi, jangan jauh-jauh, nanti diculik setan!” teriak seorang wanita dari pintu depan. Anak itu tak menghiraukan. Tekanan kuat dari balik celana memaksanya untuk berlari lebih cepat.

Dua menit lewat, anak itu masih belum terlihat. Wanita itu segera keluar, matanya menyisiri pinggiran hutan sambil berteriak memanggilnya, namun tak ada sahutan.

Memasuki menit ketiga, wanita itu bergegas masuk. Namun, belum juga tiga langkah, seorang anak tiba-tiba keluar dari kegelapan. Napas lega terdengar lirih. Keduanya segera masuk ke mobil.

Lima menit setelah mobil itu kembali berjalan menyusuri jalan, wanita itu menengok ke jok belakang. Namun, tak ada siapa pun di situ.

Andik Bolotio — Januari 2108

Simfoni Kehidupan

Sungguh ini anugerah Sang Jendral Jagat. Yang meramu membikin banyak. Panas membakar, tapi tak sampai mati. Malah hidup, malah kentara.

Datang bangsa-bangsa. Menatap jauh cakrawala. Lalu, duduk di tunggul-tunggul pohon. Liburan. Berkemah di kuburan.

Sang Jendral marah, menegur satu-satu. Lama berbenah sebentar musnah. Mereka ambyar, terpencar-pencar. Sambil berembuk, Dewan Rakyat merengut, “Sang Jendral kurang ajar!”

Andik Bolotio — Oktober 2017