Darah untuk Negeri

Gebyar-gebyar cahaya timur
Petang sembunyi dikalang senja
Mata-mata memasang lurus
Kami masih tegak
Kami belum uzur
Di garis depan yang muda-mudi
Di garis depan kami berdiri
Tegap sumpah sepijak tanah
Kami hidup dalam selangkang duri
Dalam luka membarah nanah
Hingga puas
Diperkosa bangsa sendiri
Diamputasi
Diadudomba
Mati masih dimutilasi
Tapi tenang
Mata masih terjaga
Kami masih tegak
Kami belum uzur
Sampai tanah liang mengubur
Dan binasa

Andik Bolotio — Mei ’17

Bulan Sabit

Berbondong-bondong gelap merapat
Menyinggungku dari belakang
Katanya, “Lupakan saja!”
Kataku, “Jangan!”
Katanya, “Lupakan saja!”
Kataku, “Jangan!”
Katanya, “Lupakan saja!”
Kataku, “Jangan!”
Sampai pagi datang
Kami tak pernah paham apa yang dimaksudkan
Sedang waktu terus bergulir
Membenamkanku

A.B. Mei ’17

Aku

Aku hanya satu
Dari seribu kotoran mangsa
Bangsat pengerat
Lalap biru api kuat menyengat
Selebihnya hanya rupa-rupa ilalang
Berpijak ladang penuh pepadi tumbang

Aku hanya satu
Dari kalut malut geger mangsa
Setiap ucap nan tutur
Sembilu merajam setaman subur
Bahwa masih ada hidup
Sedang jiwa tengah meredup

Aku hanya satu
Dari sepikul dosa semesta
Salah mangsa

A.B. — Maret ’17

Bagaimana Sajak Tercipta

* Dari analisa Kuntowijoyo atas Sajak D Zawawi Imron

MENUTUP buku puisi D. Zawawi Imron “Madura, Akulah Darahmu” (Grasindo, Jakarta, 1999), Kuntowijoyo menulis sebuah artikel yang menarik dan baik untuk memahami puisi dan memahami bagaimana kerja seorang penyair menghasilkn puisi. Ada bagian dari artikel itu yang menjelaskan bagaimana menurutnya sajak-sajak Zawawi tercipta.

Mula-mula Kuntowijoyo menjelaskan bahwa menulis nonfiksi (esai, artikel, buku ilmiah), menulis fiksi (novel dan drama) itu berbeda secara kategoris dengan menulis puisi. Masing-masing punya cara sendiri.

Untuk menulis nonfiksi yang kita perlukan ialah kemampuan analisis.Untuk fiksi kemampuan memaparkan secara diskursif (berurutan). Dan untuk puisi yang diperlukan adalah impresi (kesan) mengenai sesuatu.

Ada yang tak teruraikan lewat tulisan nonfiksi, tak bisa diurutkan dalam fiksi, dan satu-satunya kemungkinan ialah diungkapkan dengan puisi (dan media seni yang lain, seperti musik, tari, dan seni lukis).

Silakan lanjutkan membaca ke blog berikut – http://wp.me/p653Ms-1mR

Malam Pengantin

Kodok sedang berdang-ding-dung
Jangkrik mengkirik
Bulu makin kaku berkidik
Memasang wajah manis pekat malam
Di balut cahya kecil kelam
Halusinasi berpesta pora
Bernyanyi riang di kamar gempita
Arum nan bunga berpadu merdu
Segenggam surga
Selebam rindu
Aku masih saja terpaku
Memandang dari luaran bilik kamarmu

Andik Bolotio — Januari 2017