Simfoni Kehidupan

Sungguh ini anugerah Sang Jendral Jagat. Yang meramu membikin banyak. Panas membakar, tapi tak sampai mati. Malah hidup, malah kentara.

Datang bangsa-bangsa. Menatap jauh cakrawala. Lalu, duduk di tunggul-tunggul pohon. Liburan. Berkemah di kuburan.

Sang Jendral marah, menegur satu-satu. Lama berbenah sebentar musnah. Mereka ambyar, terpencar-pencar. Sambil berembuk, Dewan Rakyat merengut, “Sang Jendral kurang ajar!”

Andik Bolotio — Oktober 2017

Iklan

MIMPI

Aku terkejut. Hampir-hampir tersungkur ke belakang. Tiba-tiba saja Ema mendekatiku. Wajahnya pucat.

“Rin, aku beneran takut, mimpi itu kembali datang?” ucapannya terdengar parau. Aku tak juga menjawab, masih mengatur napas yang sejak tadi berdesis kuat.

“Barusan, aku mimpiin kecelakaan itu lagi, dan … dan aku lihat dengan jelas roda itu melumat tubuhku!” Ia sepertinya akan menangis, tapi tak ada airmata pun yang terlihat. Sedang, aku malah makin bingung, apa ia beneran tak mengerti?

“Rin ….!” Ia semakin mendekat.

Pelan-pelan, kubuka juga mulutku yang telah membeku. “Ma, semua emang udah terjadi!” Mataku menuju ke arah kerumunan orang yang melayat di rumahnya.

Andik Bolotio — September 2017

SURAT UNDANGAN

Ia datang, duduk di seberangku. Aku serahkan selembaran kertas berlipat itu padanya. Tiba-tiba, seberkas air menari-nari di permukaan matanya sebelum akhirnya jatuh juga menyisiri pipi.

“Apa ini pilihanmu?” Matanya memandangku tajam. Aku terdiam. Kulihat tangan dan bibirnya gemetar.

Setelah beberapa hari ini dirundung tekanan, akhirnya aku pun membuat keputusan, yang pastinya akan mengubah jalan hidupku selamanya.

“Siapa nama calon mempelai wanitanya?” tanyanya lagi sambil tersenyum, walau airmatanya terus mencurah mengalir mengakar pinang.

Sesaat kemudian, ia kembali memandangiku. Sorot matanya menyimpan tanda tanya besar setelah membuka surat undangan itu.

Aku tersenyum dan mulai angkat bicara, “Maukah kamu menuliskan namamu di situ?”

(Andik Bolotio — September 2017)

Perjalanan

Buka mata
Sebelum buta
Garis-garis liar memencar jalan depan
Siap merajam dalam nyala lain gulita
Ba’
Ini dunia
Awal kisah semula
Jurang dan kawah lelah legat
Nyala lilin semakin gelap
Menjauh
Meredup
Menggiring
Nafas tinggal sisa hari kemarin
Padamu semua kembali
Kembali
Dalam mulut terbungkam diam
Tanpa api

Indahmu Indah

Indahmu tak puas dipandang mata
Indahmu indah
Senegri ‘jangga meliuk resah

Gunung dan lembah saling tatap
Gaungnya sampai kapal menderu
Dan kerap kelu mengkubang haus harap
Aku juga

Biar lagu terus merayu
Indahmu sebatas angan lagi berlalu
Asa dan puja merenta
Kini diarak si kumbang niska’

Rapuh

Kadang hari sempat mengabur
Di dalamnya segala masa mengubur
Diam-diam
Sekawan angsa berlarian di tengah malam
Menyibak menyesak seluruh kota
Dan juga
Badan yang lama memasang kaki berkuda
Kini rela pergi melacur di malam buta

AB — Juni 2017